Sabtu, 18 Oktober 2014

APAU KAYAN BERSYUKUR

2014-10-18 09:52:39 | dibaca: 21 kali

Buldoser dari Ujung Sempadan

Senyum Harapan dari Apo Kayan (2-habis)Menerobos keterbatasan di perbatasan bak merangkul gunung di atas mimpi. Harus ada usaha di luar kewarasan. PELIPUT: Felanans Mustari BOLA mata Lina menyapu sekeliling kamp perusahaan kayu di Sarawak, Malaysia. Tangannya sibuk membuka kemasan demi kemasan mi instan. Menyapa beberapa buruh kasar yang lewat di bawah jendela dapur, dia menuntaskan masakan pada sore dua pekan lalu.Perempuan Toraja 40 tahun ini lalu beranjak ke ruang makan. Ada dua meja panjang yang cukup untuk 40 orang. Dengan cekatan, Lina menuang mi rebus lengkap dengan telur ayam dari panci tua ke mangkuk logam berukuran jumbo. Menu sederhana ini terbilang istimewa di kantin yang dikelilingi potongan kayu bulat.“Sembilan tahun di Malaysia, saya sudah lima kali pindah kamp,” tutur juru masak berkulit cokelat yang ditemui Kaltim Post di dapur perusahaan. Lina mengaku, pulang dua tahun sekali saban Natal.Di garis batas negara, Lina bersama tiga ribuan tenaga kerja Indonesia bergawai. Kamp-kamp perusahaan Malaysia dapat dicapai dua jam dari Long Nawang, Kecamatan Kayan Hulu, Malinau.Bukan sekali-dua kali, tenaga kerja yang bermasalah kabur lewat desa di beranda negara ini. Warga setempat biasa sokongan beras untuk memberi makan para TKI. Warga pun memberi mereka pekerjaan. Uang bayaran dari penduduk Long Nawang digunakan untuk memulangkan TKI lewat Bandara Long Ampung yang masih di kawasan Apo Kayan.Di Malaysia, kamp kayu para TKI menjadi tempat empat kecamatan Malinau menggantungkan hidup. Dari pos batas Tapak Mega, permukiman pabrik kayu lapis negeri jiran ditempuh 20 kilometer lagi melalui jalan berpermukaan tanah bertabur batu kerikil.Jalur darat dari desa ke pos Tapak Mega dibangun Pemprov Kaltim pada 2000. Ketika masih jalan setapak, warga membeli solar Rp 30 ribu per liter dari Malaysia. Sangat mahal karena minyak dan sembako harus dipanggul sejauh 20 kilometer. Ketika mobil sudah bolak-balik, bahan bakar diesel itu dijual Rp 18 ribu per liter. Harga barang lain ikut turun setelah jalan dibentangkan lewat perjuangan yang sangat berat.                                                       *** MATA Ingkong Ala terbelalak. Baru saja, seorang Tionghoa bernama Tiong Ping Cheung menyampaikan sesuatu yang di luar dugaan tokoh muda dari Apo Kayan ini.“Anda bawa saja buldoser itu. Bangun jalan ke Long Nawang,” tutur Cheung pada 2000 silam, seperti ditirukan Ingkong. Cheung adalah general manager perusahaan kayu Malaysia bernama Rimbunan Hijau. Pabrik kayu beroperasi sekitar 50 kilometer dari Long Nawang.Ingkong yang lahir dan besar di Apo Kayan tak menyia-nyiakan kesempatan. Buldoser pabrikan Caterpillar tipe D6D langsung diisi solar. Rimbunan hutan sejauh 30 kilometer mulai dibuka. Jejeran bukit tinggi harus dipotong agar kamp Malaysia terhubung dengan teras republik.Ingkong tahu pekerjaan ini bak memeluk gunung. Tapi dia tahu, bahkan bukit pun bisa diratakan demi sebuah rangkulan kehidupan warga perbatasan. Jika tidak, mereka akan terus kesulitan mendapatkan sembako. Dimulai hanya dengan lima orang, buldoser tua pun terus memangkas bukit.Jauh sebelum Ingkong memulai, tak satu kontraktor pun sanggup membangun jalan di Apo Kayan. Mobilisasi alat berat ke tengah rimba Kalimantan yang hanya dicapai dengan pesawat kecil dan sampan terlampau sukar. Bahkan, meski satu buldoser tua yang diberikan Cheung sudah tersedia, Ingkong tahu itu tak akan cukup.Belum lagi sediaan dana Rp 1,3 miliar dari Pemprov Kaltim untuk membuka jalan. Anggaran yang telah setahun menganggur itu kelewat kecil untuk 30 kilometer jalan selebar 6 meter. Ingkong yang saat itu tak punya banyak pengalaman di bidang konstruksi tetap maju bermodal nekat. Dia yakin, warga desa membantu pekerjaan demi membuka gembok isolasi.Satu per satu kendala diterobos. Dari Sarawak, Malaysia, jejeran bukit nan tinggi dipangkas. Tepi-tepi jurang nan curam ditimbun. Warga turut membangun jembatan sepanjang 10 meter di Sungai Lesung. Ingkong beruntung, Cheung tak berhenti memberi bantuan terutama bahan bakar.Waktu demi waktu, hubungan bisnis Ingkong dan Cheung berjalan bagus. Cheung hanya mengandalkan kepercayaan alias boleh dibayar di belakang. Sisanya, rasa keprihatinan kepada warga perbatasan.“Panas dan hujan, siang dan malam, sekitar 20 orang membangun jalan. Kadang, sehari hanya bisa 10 meter. Terperosok ke jurang atau nyaris tertimbun tanah seperti sudah biasa,” tutur Lukas, warga yang ikut dalam proyek “tak masuk akal” ini. “Mungkin karena yang bekerja adalah warga setempat, kami tidak pikirkan untung-rugi. Jalan bisa terbuka saja, itu keajaiban,” ucap Ingkong, ketika ditemui Kaltim Post di kediamannya di Long Nawang, akhir September silam.Perlu tiga tahun baru jalan itu selesai. KetikaKaltim Post menyusuri, badan jalan meliuk-liuk di garis batas. Sebentar masuk wilayah Indonesia, sebentar di Malaysia. Di ujungnya, kamp dan pabrik kayu lapis berdiri. Persediaan sembako di sana pun tak lagi sulit didapat warga sejak 2003.Delapan tahun lamanya, perut warga perbatasan bergantung Malaysia. Meskipun, dada mereka tetap milik garuda yang perkasa.Baru pada 2011, jalan antarkecamatan di Apo Kayan dibangun Pemkab Malinau. Long Ampung di Kayan Selatan terhubung Long Nawang di Kayan Hulu. Long Nawang tersambung dengan Data Dian di Kayan Hilir. Tiga kecamatan di Apo Kayan akhirnya memiliki akses darat ke Sarawak.“Semua bermula karena buldoser tua ini,” tutur Adriansyah Sabran, pensiunan pegawai Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kaltim. Sembari menunjuk alat berat kuning berkarat tak jauh dari Kantor Camat Kayan Hulu, pria 69 tahun ini berkata, “Dia mengubah segalanya.”                                  *** ALAT berat terus berdatangan. Infrastruktur yang sudah lama dimimpikan, satu per satu jadi kenyataan. Sebuah jembatan besi telah berdiri tak jauh dari tugu perjuangan di Long Nawang.“Ketika hendak dibangun, semua kontraktor angkat tangan. Kami bawa BUMN hingga swasta nasional ke sini. Tak ada yang sanggup,” tutur Camat Kayan Hulu, Wilson Ului.  “Nyatanya, Pak Ingkong bisa membangun,” sambungnya.Jembatan sepanjang 30 meter itu membentang di hulu Sungai Kayan yang jernih. Bukan saja menghubungkan dua sisi desa, struktur rangka baja ini menyatukan dua kecamatan lain menuju “peradaban”.Keberhasilan Ingkong mendirikan berbagai infrastruktur diganjar kepercayaan masyarakat. Maju dari Partai Hanura untuk parlemen provinsi, 90 persen lebih warga Apo Kayan memilihnya. Kini, ketua pengurus partai tingkat Kabupaten Bulungan itu tercatat sebagai anggota DPRD Kaltim. Setelah pemekaran, sebentar lagi dia pindah ke DPRD Kaltara. Seturut itu, akses menuju Apo Kayan --yang tak pernah terbuka selama 60 tahun Indonesia Merdeka--, terus bertambah. Isolasi enam dekade yang membuat warga Kenyah di Apo Kayan meninggalkan beranda negara, pelan-pelan berkurang.Tahun lalu, Apo Kayan akhirnya benar-benar terhubung dengan negeri sendiri. Di selatan, jalur perusahaan kayu terbentang dari Kecamatan Long Bagun di Mahakam Hulu dengan Sungai Boh, kecamatan paling selatan Malinau. Sungai Boh merupakan perbatasan dua kabupaten, Malinau dengan Mahulu, sekaligus batas tiga provinsi yakni Kaltara, Kaltim, dan Kalbar.Jalur ini masih sangat berat. Dari 300 kilometer, setengahnya masih milik perusahaan kayu. Kendaraan harus melewati tiga sungai kecil tanpa jembatan. Ketika air pasang, mobil bergardan ganda mesti menunggu lima jam. Perjalanan baru dituntaskan dengan tempuhan 18 jam.Namun, medan berat begini sudah sangat disyukuri. Kendaraan dari Samarinda sudah bisa tiba di Long Nawang. Pedagang Bugis dari Kota Tepian bisa menjual sembako dengan harga murah dibanding barang Malaysia.Pemkab Malinau di bawah Yansen Tipa Padan tak ketinggalan merobek isolasi. Selusin menara telekomunikasi dibangun. Yansen mengaku, tak pernah pusing dengan Rp 400 juta setahun untuk menyubsidi satu menara Telkomsel yang “menembak” satelit itu.Apo Kayan pun menatap masa depan sebagai beranda negeri sesungguhnya. Teras negeri kini punya banyak jalur. Di udara, ada bandara dan telekomunikasi. Di darat, tersedia jalan ke Malaysia dan Indonesia yang melengkapi lorong perjalanan sungai yang sudah tak digunakan.Memeluk gunung kian nyata ketika Bank Pembangunan Daerah Kaltim membuka kantor tiga lantai di Long Nawang. “Lima tahun lalu, penduduk murung saat bertemu saya. Seperti tidak punya kehidupan,” ucap Bupati Yansen. Sekarang, lanjutnya, warga bisa menyetir mobil serta menikmati bahan pokok dari Indonesia.“Semua tersenyum. Saya tahu, senyum tulus jauh lebih bermakna dari  ribuan kata-kata,” katanya dengan suara bergetar. Kumpulan senyum itu terhimpun dari ribuan mimpi dan harapan yang pelan-pelan terwujud di Bumi Apo Kayan. (*/zal/k14)

Jumat, 17 Oktober 2014

APAU KAYAN SILAM

2014-10-17 10:36:21 | dibaca: 13 kali

Terberai di Hulu Sungai

NUN JAUH DI PERBATASAN: Hulu Sungai Kayan, sungai terpanjang kedua di Kaltim-Kaltara. Di sini, masa jaya Apo Kayan pernah diukir.(FELANANS MUSTARI/KP)SEMILIR angin musim kemarau seketika berubah garang. Gemuruh terdengar di penjuru Desa Long Nawang, kini di Kecamatan Kayan Hulu, Malinau. Ingkong Ala, seorang pegawai negeri di kawasan Apo Kayan, melompat dari bangku kayu di beranda rumah.Hampir lewat tengah hari pada pengujung 1992 ketika Ingkong berlari mencari arah suara. Seperti tanpa aba-aba, dia bersama ratusan penduduk desa menuju hilir sungai.Tiba di sebuah lapangan terbang perintis tak jauh dari permakaman leluhur, mereka ternganga. Di landasan pacu dengan permukaan rumput bergelombang, pesawat terbang berbadan sedang nyaris jatuh ke sungai. Badan logam pesawat maskapai Pelita Air itu hanya tertahan batang bambu yang tumbuh di sudut landasan.Bahan bakar tumpah ke mana-mana. Sebagian mengalir ke sungai. Belum hilang keheranan warga, enam orang berambut cokelat bersama dua kru pribumi terhuyung-huyung keluar. Mereka berjalan 50 meter meninggalkan pesawat kemudian terpekur. Duduk menghadap burung besi yang penyok di moncong.Kabar itu membuat Samarinda gempar. Sulaiman Gafur, mantan sekprov Kaltim yang kala itu menjadi pegawai Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kaltim, mengisahkan betapa provinsi kelimpungan. Departemen Perhubungan bertanya, mengapa Casa seri 200 berkapasitas 24 penumpang mendarat di landasan dengan panjang tak lebih 600 meter. Bahkan, tiba di tengah rimba Kalimantan membawa enam turis Amerika Serikat!Gubernur Muhammad Ardans tak kalah bingung. Dia meminta penyelidikan dimulai. “Usut punya usut, pesawat itu dicarter turis Amerika langsung dari Bandara Sepinggan di Balikpapan,” tutur Sulaiman ketika ditemuiKaltim Post, dua pekan lalu.Para turis Negeri Paman Sam hanya mengandalkan selebaran Apo Kayan. Mereka tertarik dengan pesona adat, tari-tarian, hingga perempuan bertato yang masih asli. Belum lagi pesta adat hingga benda ukiran yang ditambah panorama menawan di poster. Para pelancong itu pun tak ragu menyewa pesawat tanpa melapor sana-sini.Pilot pesawat rupanya salah mendarat. Dia memilih lapangan terbang yang salah. Mestinya, pesawat turun di Bandara Long Ampung, 20 kilometer dari Long Nawang. Long Ampung punya landasan pacu 900 meter. Namun, karena ketidaktahuan pilot, pesawat malah turun di lapangan terbang perintis yang biasa hanya didarati pesawat kecil milik misi keagamaan, Mission Aviation Fellowship (MAF).Pesawat jatuh, warga yang berkerumun lalu memotongi bambu. Mereka membuat pipa darurat untuk menampung bahan bakar. Rezeki langka karena waktu itu minyak tanah sangat sulit didapat. Apalagi avtur. Sebuah helikopter tiba beberapa hari kemudian. Teknisi maskapai dibantu pemerintah, mulai memereteli badan pesawat. Kursi-kursi dilepas. Bagasi dibersihkan. Hanya peralatan di kokpit yang tersisa.“Bagian pesawat yang sudah dilepas diangkut ke Long Ampung lewat sungai,” ucap Lukas, warga setempat yang masih ingat benar memori 22 tahun silam. Belum ada jalur darat kala itu ke Long Ampung. Setelah jauh lebih ringan, pesawat “kesasar” itu mencoba terbang dibantu helikopter yang menciptakan putaran angin dari atas. Di bawah rasa khawatir yang luar biasa, warga menyaksikan pesawat meluncur dari landasan rumput dan tiba di Bandara Long Ampung.Peristiwa menghebohkan ini membuat nama Apo Kayan dan Long Nawang menjadi buah bicara. Publik mulai mencari tahu segala sesuatu tentang jantung Borneo setelah berpuluh-puluh tahun terlupakan.                                                   ***SEMBARI tertawa-tawa kecil bersama penduduk desa, Adriansyah Sabran terus mencangkul tanah lapang di Desa Long Ampung. Bermodal pacul dan sekop, ratusan warga Apo Kayan membangun landasan terbang pada 1980 silam.Terik yang menyinari tanah tinggi Apo Kayan tak lagi terasa. Adrian, pegawai Bappeda Kaltim yang sudah runtang-runtung dengan warga perbatasan sejak 1970-an, tak habis-habisnya bersukacita. Walaupun bermandi keringat dengan telapak tangan lecet, mereka terus mematangkan lahan.Sudah 35 tahun Indonesia merdeka dan baru saat itu landasan selebar 30 meter dengan panjang 900 meter dibangun. Sebelumnya, lapangan terbang hendak dibangun di Long Nawang yang menjadi pusat Apo Kayan, sekitar 20 kilometer dari Long Ampung. Namun, banyak penduduk Long Nawang menolak karena trauma konfrontasi dengan Malaysia dahulu. Mereka khawatir, bandara mempermudah musuh tiba lalu menghancurkan desa.  Tapi, tak ada yang lebih bahagia bagi warga Apo Kayan melihat pesawat turun di kampung mereka. Buldoser dan traktor yang tak mungkin didatangkan, diganti tenaga manusia. “Mereka dibayar Rp 500 sehari. Ratusan jumlahnya,” ucap Adrian, kini 69 tahun. Sebelum bandara berdiri, Apo Kayan benar-benar terkurung rimba Kalimantan. Hanya tersedia tiga arah dengan medan berat untuk menemukan peradaban modern. Menuju utara, jalur sungai nan berat dilewati untuk mencapai ibu kota kabupaten, Tanjung Selor. Kala itu, Apo Kayan masih di bawah Bulungan, sebelum dimekarkan menjadi Malinau.Pendeta Johan Encau pernah menyusuri 650 kilometer Sungai Kayan. Dari hulu sungai, pemuka agama Long Nawang ini memerlukan sebulan untuk mencapai hilir.“Kami harus meninggalkan perahu di Giram (riam) Ambun, sebelum Kecamatan Pujungan (Malinau),” ucapnya. Dari situ, dia berjalan kaki sehari melewati giram lalu menginap dua malam lagi untuk membuat perahu baru. Menyusuri hutan perawan di Taman Nasional Kayan Mentarang yang sunyi selama dua pekan, perahu baru tiba di Tanjung Selor.Arah kedua menuju barat. Di negeri jiran, berdiri kota Sibu di Negara Bagian Sarawak. Bandar terdekat dari Apo Kayan ini ditempuh dengan berjalan kaki sepekan, lalu menyusuri sungai sepekan lagi.Pilihan terakhir, berjalan kaki ke Sungai Boh, anak Sungai Mahakam di selatan selama dua minggu. Dari Sungai Boh, perlu empat hari mencapai badan Mahakam tepat di Long Bagun, kini kecamatan di Kabupaten Mahakam Hulu. Dari Long Bagun, ibu kota Kutai di Tenggarong harus ditempuh sepekan lagi menyusuri kelok-kelok Mahakam.Jalur-jalur ini yang dahulu dilalui bangsa Belanda untuk tiba di Apo Kayan. Ketika merdeka, tak banyak wakil pemerintah Indonesia bersedia melintasi jalur berat ini.Masa pembangunan yang berdengung di Pulau Jawa bak mimpi di Apo Kayan. Kesulitan mendapatkan bahan pokok ditambah kekosongan pemimpin selepas pertempuran “Ganyang Malaysia” membuat penduduk Kenyah di Apo Kayan terberai.Dari hulu Sungai Kayan mereka terberai. Satu per satu pemimpin lamin mencari tanah baru. Sebelum hijrah, setiap lamin mengirim beberapa orang untuk menyurvei tempat baru. “Biasanya, mereka memastikan ketersediaan air dan kesuburan tanah,” ucap Frederik Bid, anak pemimpin Apo Kayan.Pemerintah disebut-sebut turut mendorong penduduk pergi. “Mereka (pemerintah) bilang, buat apa hidup di sini. Tak ada apa-apa,” imbuh Johan Encau.Jiwa per jiwa, keluarga per keluarga, lamin per lamin, meninggalkan Apo Kayan sejak awal 1970. Dua puluh tahun lamanya puluhan ribu orang bermigrasi. Mereka berjalan ribuan kilometer demi tanah baru di dekat perbatasan wilayah Malaysia. Ada pula yang mendiami Miau (kini desa di Kutim) melalui Sungai Wehea. Warga yang menelusuri Sungai Mahakam, tiba di Kecamatan Tabang, Kukar. Bahkan, berjalan kaki sampai di Desa Pampang di Samarinda.Penduduk Apo Kayan yang sebelum Konfrontasi Malaysia berjumlah 50 ribu jiwa, turun drastis. Pada 2010, sensus mencatat kawasan perbatasan ini hanya diisi 3.100 jiwa. Di Desa Long Payau, Kecamatan Kayan Hulu, sekolah dasar yang selama puluhan tahun selalu penuh, kini sunyi. Gedung SD itu hanya membuka satu kelas. Tahun ini, cuma tiga murid yang mendaftar di kelas satu.Mantan camat Kayan Hilir yang kini bupati Malinau, Yansen Tipa Padan, mengatakan bahwa ada yang salah dengan pola pembangunan masa silam. “Rakyat mesti mendatangi pembangunan. Seharusnya, pembangunan yang mendatangi rakyat,” tuturnya.  Apo Kayan yang sunyi pun, akhirnya benar-benar tak tersentuh pembangunan.Baru setengah abad setelah kemerdekaan, tokoh muda lokal bernama Ingkong Ala diberi buldoser tua. Buldoser yang segera menggusur ketertinggalan Apo Kayan sekaligus mengubah wajah-wajah suram menjadi senyuman. (bersambung)(baca besok: Buldoser dari Ujung Sempadan,Red)

APAU KAYAN MASA JAYA LALU TAK BERJAYA

2014-10-17 10:42:50 | dibaca: 87 kali

Berjaya lalu Tak Berdaya

Senyum Harapan dari Apo Kayan (1)WILAYAH PENTING: Apo Kayan pernah dihuni puluhan ribu orang. Rekaman perempuan Kenyah di Long Nawang pada 1921-1927.(REPRO/WOLFGANG LEUPOLD)Belanda dan Jepang menempatkan Apo Kayan sebagai titik penting. Orde Baru melupakan begitu saja. TANDA bahaya membahana di udara Long Nawang. Johan Encau yang masih berusia 12 tahun buru-buru menyuruk di bawah meja ketika suara itu meraung-raung dengan pongah. Bersama teman-teman sekelas, murid sekolah tingkat dasar itu bersembunyi dengan wajah pucat di bawah sekolah kayu beratap sirap.Tengah hari pada awal 1963, dentuman mortir dan letusan bedil bersahutan dari kejauhan. Pesawat perang silih berganti mengarungi angkasa. Beberapa penduduk dewasa Desa Long Nawang, pusat kawasan Apo Kayan, ikut ke medan tempur. Konfrontasi bertajuk “Ganyang Malaysia” berkobar hebat ketika Johan belum mengerti arti peperangan.Setiap kali sirene pangkalan militer berteriak di garis batas Indonesia-Malaysia, situasi sedang gawat. Musuh datang menyerang atau pasukan Merah Putih menginvasi. Ketakutan Johan baru pergi setelah alarm berbunyi sekali lagi.“Itu berarti aman,” ucap Johan, kini 63 tahun. Pria yang sekarang pendeta di Gereja Kemah Injil Indonesia, Long Nawang, ini mengisahkan bahwa banyak warga lokal ikut berperang. Mereka menyerbu perbatasan hingga mendekati Kota Sibu di Sarawak, Malaysia.Tak sedikit penduduk suku Kenyah yang menghuni Apo Kayan tak kembali dari lapangan tempur. Sebagian berperang karena sukarela, sebagian lain karena paksaan.Pemimpin Apo Kayan, Bid Lie, adalah seseorang yang menolak permintaan dari pemerintahan Presiden Soekarno. “Mereka (warga Malaysia di perbatasan, Red) saudara kami juga. Kami telah membuat petutung, perjanjian damai,” tutur Bid Lie di hadapan petinggi negara di Jakarta, seperti ditirukan anaknya, Frederik Bid, kepada Kaltim Post.Kala itu, menurut Frederik yang kini kepala Badan Pengelolaan Kawasan Perbatasan, Pedalaman, dan Daerah Tertinggal Kaltim, ayahnya sudah melihat kesiapan tempur Indonesia. Bid Lie yakin, Indonesia harus berjuang keras mengalahkan Malaysia yang masih di bawah koloni Inggris.Namun, pemerintah bersikeras agar penduduk setempat ikut menjaga beranda negara. Seturut itu, Bid Lie tak tega melihat kaumnya mati di medan tempur melawan saudara sendiri. Makan hati berulam jantung, dia meletakkan jabatan. Pria yang pernah menjadi ketua DPRD Bulungan pada era 1950-an itu memilih menjadi seorang guru. Profesi yang sesuai dengan pendidikan yang diambilnya di tanah Kutai, Tenggarong.Soekarno jatuh, perang usai. Sabah dan Sarawak milik Malaysia. Sementara Apo Kayan yang kala itu diisi 50 ribu jiwa, tidak memiliki pemimpin. Tahun-tahun selanjutnya, isolasi kawasan tak juga terbuka. Sedikit sekali jalur keluar dari tempat ini.Warga Kenyah pun pergi dari beranda negara. Selama beberapa dekade, puluhan ribu orang hijrah ke hilir. Mereka meninggalkan Apo Kayan dalam kesunyian.                                                                                            ***MENEROBOS belantara hulu Sungai Kayan, Bid Lie bersama ayahnya, Lie Lencau, mengunjungi desa-desa di Apo Kayan. Turne --sebutan untuk safari-- pemimpin Apo Kayan bahkan mencapai Sarawak yang masih dikuasai Inggris.Lie Lencau mendatangi sejumlah desa yang didiami suku Kenyah. Sebagai pemimpin, dia gemar menemui petinggi lamin. Setiap rumah panjang yang dihuni puluhan keluarga itu dipimpin seorang ketua. Di atas para ketua lamin, ada kepala desa atau kepala adat.“Posisi kakek saya sebagai kepala suku besar, di atas kepala adat. Bisa dikatakan seorang raja,” tutur Frederik Bid, putra Bid Lie.Orang hulu --begitu sebutan Kesultanan Kutai kepada suku Dayak-- telah memiliki sistem pemerintahan. Wilayah kerajaan Apo Kayan begitu luas, kira-kira 2 juta hektare. Berdiri tepat di jantung Borneo, orang Kenyah diperkirakan menetap di hulu Sungai Kayan selama lebih tiga abad.Tanah ini menjadi pusat ekonomi dan permukiman. Posisinya strategis di antara Sarawak, Kesultanan Bulungan, dan Kutai. Berdiri di hulu dua sungai terpanjang di Kaltim yakni Kayan, sungai terpanjang kedua di Kaltim-Kaltara, serta anak Sungai Mahakam yaitu Sungai Boh, di selatan.Para penduduk berladang dengan tenang. Meskipun sulit mendapatkan garam, mereka bertahan di rumah panjang. Ketenteraman dengan adat-istiadat yang berjalan baik menghasilkan banyak buah karya. Ukiran Kenyah dikenal sangat halus. Banyak ditiru bangunan khas daerah di Kaltim. Begitu pula untaian manik-manik di busana daerah.Ingkong Ala, tokoh masyarakat Apo Kayan yang juga anggota DPRD Kaltim berujar, kejayaan Apo Kayan tetap diingat turun-temurun. Warga perbatasan bahkan masih hafal lagu yang diciptakan bagi sang pemimpin berjudul “Raja-Raja Apo Kayan”.Dari Long Iban hingga Boh...Lirik itu meluncur dari mulut Ingkong yang langsung bersenandung. Menandakan kekuasaan kerajaan Apo Kayan mulai hulu Sungai Kayan hingga Sungai Boh. Dahulu kala, kerajaan membuat perjanjian tapal batas dengan Kesultanan Kutai. Bukan sembarang perjanjian, kata Ingkong, karena akad pada abad 19 ditandai pemenggalan kepala manusia.“Walau bagaimanapun, memang begitu sejarahnya. Tapi ‘kan zaman sudah berubah,” tutur Ingkong.Pemerintahan Apo Kayan berpusat di Long Nawang. Desa yang sangat ramai seperti terekam kamera geolog asal Swiss, Wolfgang Leupold. Sejak 1921 hingga 1927, Wolfgang yang bekerja untuk pemerintah Hindia Belanda memasuki pedalaman Kalimantan.“Long Nawang adalah desa tertua dan teramai saat itu,” imbuh Yansen Tipa Padan. Bupati Malinau ini pernah menjadi camat di Kayan Hilir semasa muda. Kini, Apo Kayan terdiri dari empat kecamatan di bawah Kabupaten Malinau.Garis waktu menunjukkan 14 April 1911 ketika JH Temen, seorang letnan kolonel Belanda, tiba di Apo Kayan. Merasa posisi kawasan ini penting, Belanda menjadikan Apo Kayan keresidenan atau setingkat kabupaten. Di utara Kalimantan, hanya tiga keresidenan dibentuk yakni Bulungan, Malinau, dan Apo Kayan, yang dipimpin seorang wedana. Negeri Kincir Angin menjadikan Apo Kayan wilayah pertahanan pertama dari garis batas kekuasaan Inggris di Malaysia. Silih-berganti, pemimpin Belanda memimpin tanah ini seperti dicatat di tugu desa.Terakhir adalah L Koeneom, seorangposthouder yang bertugas mengawasi perdagangan antara Belanda dengan penduduk pribumi pada 1944. Dia memimpin setahun sebelum Jepang tiba pertama kali di Tarakan lalu menguasai penjuru nusantara.Memasuki pemerintahan Soekarno, raja Apo Kayan berganti gelar yakni kepala adat besar. Status kawasan pun turun menjadi kecamatan. Sampai tiba Orde Baru dengan nafsu sentralistik di bawah Soeharto. Apo Kayan nyaris tak tersentuh dan ditinggal peradaban. Tiada akses dibuka.Lukas, warga Long Nawang berusia 50 tahun mengatakan, mereka benar-benar tinggal di tengah belantara. Saking terisolasinya, sebagian warga Kaltim yang mendengar kata “Apo Kayan” bisa membayangkan betapa jauh kawasan ini. Tersembunyi di dalam hutan dan harus dicapai berbulan-bulan.Warga Apo Kayan yang ingin ke ibu kota kabupaten, waktu itu Tanjung Selor, Bulungan, perlu sebulan menyusuri sungai. Mereka pun terpaksa menggantungkan keperluan bahan pokok kepada kamp-kamp perusahaan kayu Malaysia. Ditinggalkan peradaban, suku Kenyah pergi dari tanah ini. Dan bersama gerusan waktu, beranda negara pun terlupakan. (bersambung/zal/k8)

APAU KAYAN DARI MASA KEMASA

2014-10-17 10:35:30 | dibaca: 27 kali

APO KAYAN, DARI MASA KE MASA

1906Lencau Ingan menyatukan puluhan sub-etnis di Apo Kayan. Dia diangkat sebagai pemimpin (kepala suku besar) lewat sebuah musyawarah besar. 1911Belanda masuk dan berkuasa. Militer Belanda menjadikan Apo Kayan keresidenan atau setingkat kabupaten. Posisi kawasan sangat strategis karena berhadapan langsung dengan kekuasaan Inggris di Sarawak. Lencau Ingan sempat ditangkap karena dianggap melawan Belanda. Sekitar 1940Lencau Ingan terus berupaya mengusir Belanda. Sekitar 1950Lie Lencau, anak Lencau Ingan, berkuasa. Dia diketahui senang bersafari ke desa-desa di Apo Kayan. Puluhan lamin di berbagai desa hidup tenang. Karya seni seperti ukiran, pakaian, alat musik, dan tarian daerah, hingga sulam manik-manik terus dihasilkan. Sekitar 1960Bid Lie menggantikan Lie Lencau. 1960Anak Lie Lencau, Bid Lie, menjadi kepala suku besar. Dia juga sempat menjadi ketua DPRD Bulungan dan bupati sementara.  1961-1963Konfrontasi Indonesia-Malaysia. Sejumlah warga Apo Kayan ikut dalam perang. Sebagai pemimpin, Bid Lie tidak setuju konfrontasi karena memerangi saudara sendiri. Dia meletakkan jabatan. 1966-1980Orde Baru berkuasa. Tidak ada pembangunan infrastruktur. Akses begitu sulit, Apo Kayan menjadi tempat paling terisolasi di Kaltim. Puluhan ribu penduduk bermigrasi. Mendiami aliran Sungai Boh, Sungai Mahakam, dan Sungai Kayan. Bahkan hingga Pampang, Samarinda. 1980Bandara di Long Ampung mulai dibangun. Mobilisasi peralatan sangat sulit. Menggunakan tenaga manusia, pembangunan bandara baru selesai empat tahun kemudian. 1992Pesawat Cassa-200 milik Pelita Air salah mendarat di bandara perintis Long Nawang. Mengangkut enam turis Amerika Serikat. 1999Masa pemekaran, Apo Kayan masuk Kabupaten Malinau. Terdiri dari empat kecamatan yakni Kayan Hilir, Kayan Hulu, Kayan Selatan, dan Sungai Boh. 2000Pemprov membangun 20 kilometer jalan menuju pos perbatasan di Tapak Mega, Long Nawang. Jalur ke perusahaan kayu Malaysia terbuka pada 2003. 2013Jalur 300 kilometer dari Long Bagun, Mahakam Hulu, terbuka. Setengahnya masih menggunakan jalan perusahaan kayu, PT Sumalindo Lestari Jaya. Perlu 16 jam untuk menempuhnya. Jalan terbuka, berbagai infrastruktur mulai terbangun. 2014Lewat subsidi Pemkab Malinau, menara telekomunikasi dibangun di Desa Long Nawang. Bank Pembangunan Daerah Kaltim pun membuka kantor cabang pembantu di desa yang dulunya pusat pemerintahan Apo Kayan. Sumber: Disarikan dari liputan dan wawancara