2014-10-17 10:42:50 | dibaca: 87 kali
Berjaya lalu Tak Berdaya
Senyum Harapan dari Apo Kayan (1)WILAYAH PENTING: Apo Kayan pernah dihuni puluhan ribu orang. Rekaman perempuan Kenyah di Long Nawang pada 1921-1927.(REPRO/WOLFGANG LEUPOLD)Belanda dan Jepang menempatkan Apo Kayan sebagai titik penting. Orde Baru melupakan begitu saja. TANDA bahaya membahana di udara Long Nawang. Johan Encau yang masih berusia 12 tahun buru-buru menyuruk di bawah meja ketika suara itu meraung-raung dengan pongah. Bersama teman-teman sekelas, murid sekolah tingkat dasar itu bersembunyi dengan wajah pucat di bawah sekolah kayu beratap sirap.Tengah hari pada awal 1963, dentuman mortir dan letusan bedil bersahutan dari kejauhan. Pesawat perang silih berganti mengarungi angkasa. Beberapa penduduk dewasa Desa Long Nawang, pusat kawasan Apo Kayan, ikut ke medan tempur. Konfrontasi bertajuk “Ganyang Malaysia” berkobar hebat ketika Johan belum mengerti arti peperangan.Setiap kali sirene pangkalan militer berteriak di garis batas Indonesia-Malaysia, situasi sedang gawat. Musuh datang menyerang atau pasukan Merah Putih menginvasi. Ketakutan Johan baru pergi setelah alarm berbunyi sekali lagi.“Itu berarti aman,” ucap Johan, kini 63 tahun. Pria yang sekarang pendeta di Gereja Kemah Injil Indonesia, Long Nawang, ini mengisahkan bahwa banyak warga lokal ikut berperang. Mereka menyerbu perbatasan hingga mendekati Kota Sibu di Sarawak, Malaysia.Tak sedikit penduduk suku Kenyah yang menghuni Apo Kayan tak kembali dari lapangan tempur. Sebagian berperang karena sukarela, sebagian lain karena paksaan.Pemimpin Apo Kayan, Bid Lie, adalah seseorang yang menolak permintaan dari pemerintahan Presiden Soekarno. “Mereka (warga Malaysia di perbatasan, Red) saudara kami juga. Kami telah membuat petutung, perjanjian damai,” tutur Bid Lie di hadapan petinggi negara di Jakarta, seperti ditirukan anaknya, Frederik Bid, kepada Kaltim Post.Kala itu, menurut Frederik yang kini kepala Badan Pengelolaan Kawasan Perbatasan, Pedalaman, dan Daerah Tertinggal Kaltim, ayahnya sudah melihat kesiapan tempur Indonesia. Bid Lie yakin, Indonesia harus berjuang keras mengalahkan Malaysia yang masih di bawah koloni Inggris.Namun, pemerintah bersikeras agar penduduk setempat ikut menjaga beranda negara. Seturut itu, Bid Lie tak tega melihat kaumnya mati di medan tempur melawan saudara sendiri. Makan hati berulam jantung, dia meletakkan jabatan. Pria yang pernah menjadi ketua DPRD Bulungan pada era 1950-an itu memilih menjadi seorang guru. Profesi yang sesuai dengan pendidikan yang diambilnya di tanah Kutai, Tenggarong.Soekarno jatuh, perang usai. Sabah dan Sarawak milik Malaysia. Sementara Apo Kayan yang kala itu diisi 50 ribu jiwa, tidak memiliki pemimpin. Tahun-tahun selanjutnya, isolasi kawasan tak juga terbuka. Sedikit sekali jalur keluar dari tempat ini.Warga Kenyah pun pergi dari beranda negara. Selama beberapa dekade, puluhan ribu orang hijrah ke hilir. Mereka meninggalkan Apo Kayan dalam kesunyian. ***MENEROBOS belantara hulu Sungai Kayan, Bid Lie bersama ayahnya, Lie Lencau, mengunjungi desa-desa di Apo Kayan. Turne --sebutan untuk safari-- pemimpin Apo Kayan bahkan mencapai Sarawak yang masih dikuasai Inggris.Lie Lencau mendatangi sejumlah desa yang didiami suku Kenyah. Sebagai pemimpin, dia gemar menemui petinggi lamin. Setiap rumah panjang yang dihuni puluhan keluarga itu dipimpin seorang ketua. Di atas para ketua lamin, ada kepala desa atau kepala adat.“Posisi kakek saya sebagai kepala suku besar, di atas kepala adat. Bisa dikatakan seorang raja,” tutur Frederik Bid, putra Bid Lie.Orang hulu --begitu sebutan Kesultanan Kutai kepada suku Dayak-- telah memiliki sistem pemerintahan. Wilayah kerajaan Apo Kayan begitu luas, kira-kira 2 juta hektare. Berdiri tepat di jantung Borneo, orang Kenyah diperkirakan menetap di hulu Sungai Kayan selama lebih tiga abad.Tanah ini menjadi pusat ekonomi dan permukiman. Posisinya strategis di antara Sarawak, Kesultanan Bulungan, dan Kutai. Berdiri di hulu dua sungai terpanjang di Kaltim yakni Kayan, sungai terpanjang kedua di Kaltim-Kaltara, serta anak Sungai Mahakam yaitu Sungai Boh, di selatan.Para penduduk berladang dengan tenang. Meskipun sulit mendapatkan garam, mereka bertahan di rumah panjang. Ketenteraman dengan adat-istiadat yang berjalan baik menghasilkan banyak buah karya. Ukiran Kenyah dikenal sangat halus. Banyak ditiru bangunan khas daerah di Kaltim. Begitu pula untaian manik-manik di busana daerah.Ingkong Ala, tokoh masyarakat Apo Kayan yang juga anggota DPRD Kaltim berujar, kejayaan Apo Kayan tetap diingat turun-temurun. Warga perbatasan bahkan masih hafal lagu yang diciptakan bagi sang pemimpin berjudul “Raja-Raja Apo Kayan”.Dari Long Iban hingga Boh...Lirik itu meluncur dari mulut Ingkong yang langsung bersenandung. Menandakan kekuasaan kerajaan Apo Kayan mulai hulu Sungai Kayan hingga Sungai Boh. Dahulu kala, kerajaan membuat perjanjian tapal batas dengan Kesultanan Kutai. Bukan sembarang perjanjian, kata Ingkong, karena akad pada abad 19 ditandai pemenggalan kepala manusia.“Walau bagaimanapun, memang begitu sejarahnya. Tapi ‘kan zaman sudah berubah,” tutur Ingkong.Pemerintahan Apo Kayan berpusat di Long Nawang. Desa yang sangat ramai seperti terekam kamera geolog asal Swiss, Wolfgang Leupold. Sejak 1921 hingga 1927, Wolfgang yang bekerja untuk pemerintah Hindia Belanda memasuki pedalaman Kalimantan.“Long Nawang adalah desa tertua dan teramai saat itu,” imbuh Yansen Tipa Padan. Bupati Malinau ini pernah menjadi camat di Kayan Hilir semasa muda. Kini, Apo Kayan terdiri dari empat kecamatan di bawah Kabupaten Malinau.Garis waktu menunjukkan 14 April 1911 ketika JH Temen, seorang letnan kolonel Belanda, tiba di Apo Kayan. Merasa posisi kawasan ini penting, Belanda menjadikan Apo Kayan keresidenan atau setingkat kabupaten. Di utara Kalimantan, hanya tiga keresidenan dibentuk yakni Bulungan, Malinau, dan Apo Kayan, yang dipimpin seorang wedana. Negeri Kincir Angin menjadikan Apo Kayan wilayah pertahanan pertama dari garis batas kekuasaan Inggris di Malaysia. Silih-berganti, pemimpin Belanda memimpin tanah ini seperti dicatat di tugu desa.Terakhir adalah L Koeneom, seorangposthouder yang bertugas mengawasi perdagangan antara Belanda dengan penduduk pribumi pada 1944. Dia memimpin setahun sebelum Jepang tiba pertama kali di Tarakan lalu menguasai penjuru nusantara.Memasuki pemerintahan Soekarno, raja Apo Kayan berganti gelar yakni kepala adat besar. Status kawasan pun turun menjadi kecamatan. Sampai tiba Orde Baru dengan nafsu sentralistik di bawah Soeharto. Apo Kayan nyaris tak tersentuh dan ditinggal peradaban. Tiada akses dibuka.Lukas, warga Long Nawang berusia 50 tahun mengatakan, mereka benar-benar tinggal di tengah belantara. Saking terisolasinya, sebagian warga Kaltim yang mendengar kata “Apo Kayan” bisa membayangkan betapa jauh kawasan ini. Tersembunyi di dalam hutan dan harus dicapai berbulan-bulan.Warga Apo Kayan yang ingin ke ibu kota kabupaten, waktu itu Tanjung Selor, Bulungan, perlu sebulan menyusuri sungai. Mereka pun terpaksa menggantungkan keperluan bahan pokok kepada kamp-kamp perusahaan kayu Malaysia. Ditinggalkan peradaban, suku Kenyah pergi dari tanah ini. Dan bersama gerusan waktu, beranda negara pun terlupakan. (bersambung/zal/k8)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar