2014-10-18 09:52:39 | dibaca: 21 kali
Buldoser dari Ujung Sempadan
Senyum Harapan dari Apo Kayan (2-habis)Menerobos keterbatasan di perbatasan bak merangkul gunung di atas mimpi. Harus ada usaha di luar kewarasan. PELIPUT: Felanans Mustari BOLA mata Lina menyapu sekeliling kamp perusahaan kayu di Sarawak, Malaysia. Tangannya sibuk membuka kemasan demi kemasan mi instan. Menyapa beberapa buruh kasar yang lewat di bawah jendela dapur, dia menuntaskan masakan pada sore dua pekan lalu.Perempuan Toraja 40 tahun ini lalu beranjak ke ruang makan. Ada dua meja panjang yang cukup untuk 40 orang. Dengan cekatan, Lina menuang mi rebus lengkap dengan telur ayam dari panci tua ke mangkuk logam berukuran jumbo. Menu sederhana ini terbilang istimewa di kantin yang dikelilingi potongan kayu bulat.“Sembilan tahun di Malaysia, saya sudah lima kali pindah kamp,” tutur juru masak berkulit cokelat yang ditemui Kaltim Post di dapur perusahaan. Lina mengaku, pulang dua tahun sekali saban Natal.Di garis batas negara, Lina bersama tiga ribuan tenaga kerja Indonesia bergawai. Kamp-kamp perusahaan Malaysia dapat dicapai dua jam dari Long Nawang, Kecamatan Kayan Hulu, Malinau.Bukan sekali-dua kali, tenaga kerja yang bermasalah kabur lewat desa di beranda negara ini. Warga setempat biasa sokongan beras untuk memberi makan para TKI. Warga pun memberi mereka pekerjaan. Uang bayaran dari penduduk Long Nawang digunakan untuk memulangkan TKI lewat Bandara Long Ampung yang masih di kawasan Apo Kayan.Di Malaysia, kamp kayu para TKI menjadi tempat empat kecamatan Malinau menggantungkan hidup. Dari pos batas Tapak Mega, permukiman pabrik kayu lapis negeri jiran ditempuh 20 kilometer lagi melalui jalan berpermukaan tanah bertabur batu kerikil.Jalur darat dari desa ke pos Tapak Mega dibangun Pemprov Kaltim pada 2000. Ketika masih jalan setapak, warga membeli solar Rp 30 ribu per liter dari Malaysia. Sangat mahal karena minyak dan sembako harus dipanggul sejauh 20 kilometer. Ketika mobil sudah bolak-balik, bahan bakar diesel itu dijual Rp 18 ribu per liter. Harga barang lain ikut turun setelah jalan dibentangkan lewat perjuangan yang sangat berat. *** MATA Ingkong Ala terbelalak. Baru saja, seorang Tionghoa bernama Tiong Ping Cheung menyampaikan sesuatu yang di luar dugaan tokoh muda dari Apo Kayan ini.“Anda bawa saja buldoser itu. Bangun jalan ke Long Nawang,” tutur Cheung pada 2000 silam, seperti ditirukan Ingkong. Cheung adalah general manager perusahaan kayu Malaysia bernama Rimbunan Hijau. Pabrik kayu beroperasi sekitar 50 kilometer dari Long Nawang.Ingkong yang lahir dan besar di Apo Kayan tak menyia-nyiakan kesempatan. Buldoser pabrikan Caterpillar tipe D6D langsung diisi solar. Rimbunan hutan sejauh 30 kilometer mulai dibuka. Jejeran bukit tinggi harus dipotong agar kamp Malaysia terhubung dengan teras republik.Ingkong tahu pekerjaan ini bak memeluk gunung. Tapi dia tahu, bahkan bukit pun bisa diratakan demi sebuah rangkulan kehidupan warga perbatasan. Jika tidak, mereka akan terus kesulitan mendapatkan sembako. Dimulai hanya dengan lima orang, buldoser tua pun terus memangkas bukit.Jauh sebelum Ingkong memulai, tak satu kontraktor pun sanggup membangun jalan di Apo Kayan. Mobilisasi alat berat ke tengah rimba Kalimantan yang hanya dicapai dengan pesawat kecil dan sampan terlampau sukar. Bahkan, meski satu buldoser tua yang diberikan Cheung sudah tersedia, Ingkong tahu itu tak akan cukup.Belum lagi sediaan dana Rp 1,3 miliar dari Pemprov Kaltim untuk membuka jalan. Anggaran yang telah setahun menganggur itu kelewat kecil untuk 30 kilometer jalan selebar 6 meter. Ingkong yang saat itu tak punya banyak pengalaman di bidang konstruksi tetap maju bermodal nekat. Dia yakin, warga desa membantu pekerjaan demi membuka gembok isolasi.Satu per satu kendala diterobos. Dari Sarawak, Malaysia, jejeran bukit nan tinggi dipangkas. Tepi-tepi jurang nan curam ditimbun. Warga turut membangun jembatan sepanjang 10 meter di Sungai Lesung. Ingkong beruntung, Cheung tak berhenti memberi bantuan terutama bahan bakar.Waktu demi waktu, hubungan bisnis Ingkong dan Cheung berjalan bagus. Cheung hanya mengandalkan kepercayaan alias boleh dibayar di belakang. Sisanya, rasa keprihatinan kepada warga perbatasan.“Panas dan hujan, siang dan malam, sekitar 20 orang membangun jalan. Kadang, sehari hanya bisa 10 meter. Terperosok ke jurang atau nyaris tertimbun tanah seperti sudah biasa,” tutur Lukas, warga yang ikut dalam proyek “tak masuk akal” ini. “Mungkin karena yang bekerja adalah warga setempat, kami tidak pikirkan untung-rugi. Jalan bisa terbuka saja, itu keajaiban,” ucap Ingkong, ketika ditemui Kaltim Post di kediamannya di Long Nawang, akhir September silam.Perlu tiga tahun baru jalan itu selesai. KetikaKaltim Post menyusuri, badan jalan meliuk-liuk di garis batas. Sebentar masuk wilayah Indonesia, sebentar di Malaysia. Di ujungnya, kamp dan pabrik kayu lapis berdiri. Persediaan sembako di sana pun tak lagi sulit didapat warga sejak 2003.Delapan tahun lamanya, perut warga perbatasan bergantung Malaysia. Meskipun, dada mereka tetap milik garuda yang perkasa.Baru pada 2011, jalan antarkecamatan di Apo Kayan dibangun Pemkab Malinau. Long Ampung di Kayan Selatan terhubung Long Nawang di Kayan Hulu. Long Nawang tersambung dengan Data Dian di Kayan Hilir. Tiga kecamatan di Apo Kayan akhirnya memiliki akses darat ke Sarawak.“Semua bermula karena buldoser tua ini,” tutur Adriansyah Sabran, pensiunan pegawai Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kaltim. Sembari menunjuk alat berat kuning berkarat tak jauh dari Kantor Camat Kayan Hulu, pria 69 tahun ini berkata, “Dia mengubah segalanya.” *** ALAT berat terus berdatangan. Infrastruktur yang sudah lama dimimpikan, satu per satu jadi kenyataan. Sebuah jembatan besi telah berdiri tak jauh dari tugu perjuangan di Long Nawang.“Ketika hendak dibangun, semua kontraktor angkat tangan. Kami bawa BUMN hingga swasta nasional ke sini. Tak ada yang sanggup,” tutur Camat Kayan Hulu, Wilson Ului. “Nyatanya, Pak Ingkong bisa membangun,” sambungnya.Jembatan sepanjang 30 meter itu membentang di hulu Sungai Kayan yang jernih. Bukan saja menghubungkan dua sisi desa, struktur rangka baja ini menyatukan dua kecamatan lain menuju “peradaban”.Keberhasilan Ingkong mendirikan berbagai infrastruktur diganjar kepercayaan masyarakat. Maju dari Partai Hanura untuk parlemen provinsi, 90 persen lebih warga Apo Kayan memilihnya. Kini, ketua pengurus partai tingkat Kabupaten Bulungan itu tercatat sebagai anggota DPRD Kaltim. Setelah pemekaran, sebentar lagi dia pindah ke DPRD Kaltara. Seturut itu, akses menuju Apo Kayan --yang tak pernah terbuka selama 60 tahun Indonesia Merdeka--, terus bertambah. Isolasi enam dekade yang membuat warga Kenyah di Apo Kayan meninggalkan beranda negara, pelan-pelan berkurang.Tahun lalu, Apo Kayan akhirnya benar-benar terhubung dengan negeri sendiri. Di selatan, jalur perusahaan kayu terbentang dari Kecamatan Long Bagun di Mahakam Hulu dengan Sungai Boh, kecamatan paling selatan Malinau. Sungai Boh merupakan perbatasan dua kabupaten, Malinau dengan Mahulu, sekaligus batas tiga provinsi yakni Kaltara, Kaltim, dan Kalbar.Jalur ini masih sangat berat. Dari 300 kilometer, setengahnya masih milik perusahaan kayu. Kendaraan harus melewati tiga sungai kecil tanpa jembatan. Ketika air pasang, mobil bergardan ganda mesti menunggu lima jam. Perjalanan baru dituntaskan dengan tempuhan 18 jam.Namun, medan berat begini sudah sangat disyukuri. Kendaraan dari Samarinda sudah bisa tiba di Long Nawang. Pedagang Bugis dari Kota Tepian bisa menjual sembako dengan harga murah dibanding barang Malaysia.Pemkab Malinau di bawah Yansen Tipa Padan tak ketinggalan merobek isolasi. Selusin menara telekomunikasi dibangun. Yansen mengaku, tak pernah pusing dengan Rp 400 juta setahun untuk menyubsidi satu menara Telkomsel yang “menembak” satelit itu.Apo Kayan pun menatap masa depan sebagai beranda negeri sesungguhnya. Teras negeri kini punya banyak jalur. Di udara, ada bandara dan telekomunikasi. Di darat, tersedia jalan ke Malaysia dan Indonesia yang melengkapi lorong perjalanan sungai yang sudah tak digunakan.Memeluk gunung kian nyata ketika Bank Pembangunan Daerah Kaltim membuka kantor tiga lantai di Long Nawang. “Lima tahun lalu, penduduk murung saat bertemu saya. Seperti tidak punya kehidupan,” ucap Bupati Yansen. Sekarang, lanjutnya, warga bisa menyetir mobil serta menikmati bahan pokok dari Indonesia.“Semua tersenyum. Saya tahu, senyum tulus jauh lebih bermakna dari ribuan kata-kata,” katanya dengan suara bergetar. Kumpulan senyum itu terhimpun dari ribuan mimpi dan harapan yang pelan-pelan terwujud di Bumi Apo Kayan. (*/zal/k14)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar