Jumat, 17 Oktober 2014

APAU KAYAN SILAM

2014-10-17 10:36:21 | dibaca: 13 kali

Terberai di Hulu Sungai

NUN JAUH DI PERBATASAN: Hulu Sungai Kayan, sungai terpanjang kedua di Kaltim-Kaltara. Di sini, masa jaya Apo Kayan pernah diukir.(FELANANS MUSTARI/KP)SEMILIR angin musim kemarau seketika berubah garang. Gemuruh terdengar di penjuru Desa Long Nawang, kini di Kecamatan Kayan Hulu, Malinau. Ingkong Ala, seorang pegawai negeri di kawasan Apo Kayan, melompat dari bangku kayu di beranda rumah.Hampir lewat tengah hari pada pengujung 1992 ketika Ingkong berlari mencari arah suara. Seperti tanpa aba-aba, dia bersama ratusan penduduk desa menuju hilir sungai.Tiba di sebuah lapangan terbang perintis tak jauh dari permakaman leluhur, mereka ternganga. Di landasan pacu dengan permukaan rumput bergelombang, pesawat terbang berbadan sedang nyaris jatuh ke sungai. Badan logam pesawat maskapai Pelita Air itu hanya tertahan batang bambu yang tumbuh di sudut landasan.Bahan bakar tumpah ke mana-mana. Sebagian mengalir ke sungai. Belum hilang keheranan warga, enam orang berambut cokelat bersama dua kru pribumi terhuyung-huyung keluar. Mereka berjalan 50 meter meninggalkan pesawat kemudian terpekur. Duduk menghadap burung besi yang penyok di moncong.Kabar itu membuat Samarinda gempar. Sulaiman Gafur, mantan sekprov Kaltim yang kala itu menjadi pegawai Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kaltim, mengisahkan betapa provinsi kelimpungan. Departemen Perhubungan bertanya, mengapa Casa seri 200 berkapasitas 24 penumpang mendarat di landasan dengan panjang tak lebih 600 meter. Bahkan, tiba di tengah rimba Kalimantan membawa enam turis Amerika Serikat!Gubernur Muhammad Ardans tak kalah bingung. Dia meminta penyelidikan dimulai. “Usut punya usut, pesawat itu dicarter turis Amerika langsung dari Bandara Sepinggan di Balikpapan,” tutur Sulaiman ketika ditemuiKaltim Post, dua pekan lalu.Para turis Negeri Paman Sam hanya mengandalkan selebaran Apo Kayan. Mereka tertarik dengan pesona adat, tari-tarian, hingga perempuan bertato yang masih asli. Belum lagi pesta adat hingga benda ukiran yang ditambah panorama menawan di poster. Para pelancong itu pun tak ragu menyewa pesawat tanpa melapor sana-sini.Pilot pesawat rupanya salah mendarat. Dia memilih lapangan terbang yang salah. Mestinya, pesawat turun di Bandara Long Ampung, 20 kilometer dari Long Nawang. Long Ampung punya landasan pacu 900 meter. Namun, karena ketidaktahuan pilot, pesawat malah turun di lapangan terbang perintis yang biasa hanya didarati pesawat kecil milik misi keagamaan, Mission Aviation Fellowship (MAF).Pesawat jatuh, warga yang berkerumun lalu memotongi bambu. Mereka membuat pipa darurat untuk menampung bahan bakar. Rezeki langka karena waktu itu minyak tanah sangat sulit didapat. Apalagi avtur. Sebuah helikopter tiba beberapa hari kemudian. Teknisi maskapai dibantu pemerintah, mulai memereteli badan pesawat. Kursi-kursi dilepas. Bagasi dibersihkan. Hanya peralatan di kokpit yang tersisa.“Bagian pesawat yang sudah dilepas diangkut ke Long Ampung lewat sungai,” ucap Lukas, warga setempat yang masih ingat benar memori 22 tahun silam. Belum ada jalur darat kala itu ke Long Ampung. Setelah jauh lebih ringan, pesawat “kesasar” itu mencoba terbang dibantu helikopter yang menciptakan putaran angin dari atas. Di bawah rasa khawatir yang luar biasa, warga menyaksikan pesawat meluncur dari landasan rumput dan tiba di Bandara Long Ampung.Peristiwa menghebohkan ini membuat nama Apo Kayan dan Long Nawang menjadi buah bicara. Publik mulai mencari tahu segala sesuatu tentang jantung Borneo setelah berpuluh-puluh tahun terlupakan.                                                   ***SEMBARI tertawa-tawa kecil bersama penduduk desa, Adriansyah Sabran terus mencangkul tanah lapang di Desa Long Ampung. Bermodal pacul dan sekop, ratusan warga Apo Kayan membangun landasan terbang pada 1980 silam.Terik yang menyinari tanah tinggi Apo Kayan tak lagi terasa. Adrian, pegawai Bappeda Kaltim yang sudah runtang-runtung dengan warga perbatasan sejak 1970-an, tak habis-habisnya bersukacita. Walaupun bermandi keringat dengan telapak tangan lecet, mereka terus mematangkan lahan.Sudah 35 tahun Indonesia merdeka dan baru saat itu landasan selebar 30 meter dengan panjang 900 meter dibangun. Sebelumnya, lapangan terbang hendak dibangun di Long Nawang yang menjadi pusat Apo Kayan, sekitar 20 kilometer dari Long Ampung. Namun, banyak penduduk Long Nawang menolak karena trauma konfrontasi dengan Malaysia dahulu. Mereka khawatir, bandara mempermudah musuh tiba lalu menghancurkan desa.  Tapi, tak ada yang lebih bahagia bagi warga Apo Kayan melihat pesawat turun di kampung mereka. Buldoser dan traktor yang tak mungkin didatangkan, diganti tenaga manusia. “Mereka dibayar Rp 500 sehari. Ratusan jumlahnya,” ucap Adrian, kini 69 tahun. Sebelum bandara berdiri, Apo Kayan benar-benar terkurung rimba Kalimantan. Hanya tersedia tiga arah dengan medan berat untuk menemukan peradaban modern. Menuju utara, jalur sungai nan berat dilewati untuk mencapai ibu kota kabupaten, Tanjung Selor. Kala itu, Apo Kayan masih di bawah Bulungan, sebelum dimekarkan menjadi Malinau.Pendeta Johan Encau pernah menyusuri 650 kilometer Sungai Kayan. Dari hulu sungai, pemuka agama Long Nawang ini memerlukan sebulan untuk mencapai hilir.“Kami harus meninggalkan perahu di Giram (riam) Ambun, sebelum Kecamatan Pujungan (Malinau),” ucapnya. Dari situ, dia berjalan kaki sehari melewati giram lalu menginap dua malam lagi untuk membuat perahu baru. Menyusuri hutan perawan di Taman Nasional Kayan Mentarang yang sunyi selama dua pekan, perahu baru tiba di Tanjung Selor.Arah kedua menuju barat. Di negeri jiran, berdiri kota Sibu di Negara Bagian Sarawak. Bandar terdekat dari Apo Kayan ini ditempuh dengan berjalan kaki sepekan, lalu menyusuri sungai sepekan lagi.Pilihan terakhir, berjalan kaki ke Sungai Boh, anak Sungai Mahakam di selatan selama dua minggu. Dari Sungai Boh, perlu empat hari mencapai badan Mahakam tepat di Long Bagun, kini kecamatan di Kabupaten Mahakam Hulu. Dari Long Bagun, ibu kota Kutai di Tenggarong harus ditempuh sepekan lagi menyusuri kelok-kelok Mahakam.Jalur-jalur ini yang dahulu dilalui bangsa Belanda untuk tiba di Apo Kayan. Ketika merdeka, tak banyak wakil pemerintah Indonesia bersedia melintasi jalur berat ini.Masa pembangunan yang berdengung di Pulau Jawa bak mimpi di Apo Kayan. Kesulitan mendapatkan bahan pokok ditambah kekosongan pemimpin selepas pertempuran “Ganyang Malaysia” membuat penduduk Kenyah di Apo Kayan terberai.Dari hulu Sungai Kayan mereka terberai. Satu per satu pemimpin lamin mencari tanah baru. Sebelum hijrah, setiap lamin mengirim beberapa orang untuk menyurvei tempat baru. “Biasanya, mereka memastikan ketersediaan air dan kesuburan tanah,” ucap Frederik Bid, anak pemimpin Apo Kayan.Pemerintah disebut-sebut turut mendorong penduduk pergi. “Mereka (pemerintah) bilang, buat apa hidup di sini. Tak ada apa-apa,” imbuh Johan Encau.Jiwa per jiwa, keluarga per keluarga, lamin per lamin, meninggalkan Apo Kayan sejak awal 1970. Dua puluh tahun lamanya puluhan ribu orang bermigrasi. Mereka berjalan ribuan kilometer demi tanah baru di dekat perbatasan wilayah Malaysia. Ada pula yang mendiami Miau (kini desa di Kutim) melalui Sungai Wehea. Warga yang menelusuri Sungai Mahakam, tiba di Kecamatan Tabang, Kukar. Bahkan, berjalan kaki sampai di Desa Pampang di Samarinda.Penduduk Apo Kayan yang sebelum Konfrontasi Malaysia berjumlah 50 ribu jiwa, turun drastis. Pada 2010, sensus mencatat kawasan perbatasan ini hanya diisi 3.100 jiwa. Di Desa Long Payau, Kecamatan Kayan Hulu, sekolah dasar yang selama puluhan tahun selalu penuh, kini sunyi. Gedung SD itu hanya membuka satu kelas. Tahun ini, cuma tiga murid yang mendaftar di kelas satu.Mantan camat Kayan Hilir yang kini bupati Malinau, Yansen Tipa Padan, mengatakan bahwa ada yang salah dengan pola pembangunan masa silam. “Rakyat mesti mendatangi pembangunan. Seharusnya, pembangunan yang mendatangi rakyat,” tuturnya.  Apo Kayan yang sunyi pun, akhirnya benar-benar tak tersentuh pembangunan.Baru setengah abad setelah kemerdekaan, tokoh muda lokal bernama Ingkong Ala diberi buldoser tua. Buldoser yang segera menggusur ketertinggalan Apo Kayan sekaligus mengubah wajah-wajah suram menjadi senyuman. (bersambung)(baca besok: Buldoser dari Ujung Sempadan,Red)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar